"Jakarta for better city"

Hiburan

Iwan Fals kehilangan inspirasi

Kini kita sering melihat penampilan Iwan Fals di Televisi. Bukan sedang mendendangkan lagu , tapi membawakan pesan sponsor “TVS anda inspirasinya”. Ketika para artis berlomba-lomba menuju kursi parlemen, Iwan Fals justru sebaliknya. Musisi yang bernama asli Virgiawan Listanto ini malah manggung sebagai model iklan motor produksi India. Pemunculan ini adalah kali pertama tampilnya Iwan Fals sebagai model iklan, tetap dengan ciri khas gitarnya yang tak pernah ketinggalan. Shooting untuk iklan itu sendiri mengambil lokasi di Mal MGK Kemayoran Jakarta Utara dan di studio jalan Ampera No.123 Jakarta Selatan.

Berawal dari ambisi PT. TVS Company Motor Indonesia yang berharap masuk ke dalam deretan tiga besar produsen motor di Indonesia, perusahaan ini pun menggandeng Iwan sebagai dutanya. Figur Iwan dengan idealismenya, karismatik, disegani dan memiliki karakter serta jutaan penggemar di seluruh Indonesia, dirasa cocok oleh TVS dan diharapkan mampu mencuri perhatian konsumen. Tapi kehadirannya menjadi model iklan motor malah mengundang kontroversi dari para penggemarnya. Padahal musisi yang memiliki nama besar seperti Slank dengan iklan jamunya dan Dewa dengan iklan pelumasnya, telah lebih dulu menjadi model iklan dan tidak mendapat kontra yang berarti dari para fansnya.

Oleh sebagian pengidolanya mungkin Iwan lebih diharapkan menjadi model iklan layanan masyarakat daripada mempromosikan sebuah produk tertentu. Dianggap lebih pantas karena lagu-lagunya kebanyakan bertemakan kritik-kritik sosial yang mengangkat problematika kaum marginal. Tetapi menjadi sah-sah saja jika Iwan memiliki alasan tersendiri sebelum memutuskan untuk membintangi iklan tersebut. Tak berbeda dengan lirik lagunya, kelas motor yang dibintanginya adalah kendaraan milik golongan menengah ke bawah. Dan bisa dibayangkan apa jadinya jika Iwan menjadi bintang pada iklan mobil ataupun apartemen.

Iwan Fals dengan fenomenanya memang telah menjadi barometer idealisme. Setelah tawar menawar harga, Iwan akhirnya tancap gas memilih dan memutuskan untuk kampanye motor dibanding kampanye partai. Karena memang tidak pas jika sosoknya mau dijadikan corong partai untuk berebut kekuasaan, mungkin akan lebih banyak lagi penggemar yang meninggalkannya. Mengapa ??? karena dalam tembang “Aku Bukan Pilihan” Iwan mendeklarasikan diri “Aku lelaki bukan tuk dipilih”.

Menurutnya, TVS memiliki visi yang sama dengan dirinya. TVS memang telah beroperasi di Indonesia sejak 2 tahun yang lalu, tapi hanya sebatas menggali aspirasi, baru kemudian di tahun ini mengembangkannya menjadi sebuah inovasi. Kesamaan yang disejajarkan dengan dirinya yang menangkap aspirasi dan menuangkannya lewat lagu. TVS berencana untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksinya di ASEAN. Jelas, banyak “sarjana muda” yang akan dibutuhkan dan tak lagi “resah mencari kerja”. Dengan bahan bakar yang diklaim irit, lahirnya TVS “menjelang Pemilu” juga berdampak kecil bagi “BBM yang naik tinggi”. Tujuannya dengan membeli motor yang murah dan berkualitas diharapkan “susu masih bisa terbeli dan bayi cukup gizi”. TVS juga akan membuat varian motor yang khusus diproduksi untuk “Orang Indonesia” dan tidak dipasarkan di luar Indonesia maupun di negeri asalnya India. Selain itu TVS yang menerapkan standar emisi Euro, masih memiliki kepekaan terhadap lingkungan yang kian tercemar seperti lirik kepekaan lagu Iwan. Kita lihat apakah dari iklan ini akan menumbuhkan kembali inspirasi Iwan yang hilang setelah hilangnya Galang Rambu Anarki ??. Seperti insiprasinya yang tercipta lewat lagu berjudul kuda coklat yang dikhususkan bagi TVS. (DPH).


Aris “Idol” jadi karyawan telekomunikasi

Indonesia memilih “ARIS” di malam penganugerahan gelar Indonesian Idol 2008 yang berlangsung di Hall D JIExpo arena PRJ Kemayoran tgl 2 Agustus 2008. Januarismanto (23) yang lebih ingin disebut namanya dengan Januarisman Runtuwene memang layak menyandang gelar tersebut. Kemampuan olah vokalnya patut diakui. RCTI pun boleh berbangga dengan terpilihnya, karena acara ini kembali merebut perhatian. Jika tidak, mungkin reality show pencari bakat yang diadopsinya hampir saja kehilangan perhatian pemirsa di tahun kelimanya. Lewat ajang tersebut remaja diajak meraih impian secara cepat dan mudah untuk terjun ke industri musik hanya dengan suara. Sehingga wajar jika ada peserta yang tak peduli lagi berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk meraih suara. Sebagian mereka kini merana tetapi siapa pula yang tetap bahagia ?

Aris seperti bermimpi bisa tampil di ajang bergengsi. Kehidupan yang keras di kota besar telah membuatnya putus sekolah tetapi tidak putus asa untuk terus bekerja keras. Kereta Rel Listrik dan bis kota bak studio musik mobile bagi pengamen seperti dirinya. Keikhlasannya untuk membantu orang tua dan keluarganya sudah tidak laku dijual untuk menggugah simpati para pemirsa. Kematangan vokalnyalah yang mampu memberi jiwa pada setiap lagu dan membawanya ke depan pintu industri musik Indonesia. Bahkan lagu “Rasa yang tertinggal” milik ST12 didendangkan lebih bernyawa daripada pembawa lagunya sendiri. Prediksi tiga komentator Idol dan penyanyi kawakan sejak awal menuntun pemirsa agar cermat menyeleksi. Dan Melly Goeslaw pun akan tetap bernyanyi karena Indonesia memilih Aris.

Dulu, dirinya tak pernah mengira jika telepon genggam bisa mengangkat derajatnya. Perangkat itu memang tak pernah lepas dari kehidupannya. Dari tangan pemirsa, Aris berada di atas kenyataan. Sambil menangis, Fany-Istri Aris pernah menuturkan bahwa suatu ketika Aris rela menjual HPnya hanya untuk membelikan cincin di hari ulang tahunnya yang ke 19. Kini terulang lagi, istrinya pun kembali menangis karena SMS dan telepon dukungan pemirsa membantu mengiringi doanya. Aris hanya dapat memanfaatkan menuju cita-cita. Apa yang terjadi jika hanya sedikit pemirsa yang mau memilihnya ??? Maka sudah selayaknya jika ia selalu mengingat pesan ibunya, untuk tetap merendahkan hati ketika menjadi idola.

Dia tak perlu lagi susah-susah belajar etika, bahasa ataupun cara mengadatasi panggung. Bakat suara dan gitar kesayangannya bisa memupuskan semua kekurangannya. Orang sudah mengenal suaranya dan Indonesian Idol mempopulerkan namanya. Ini era digital, penyanyi bisa masuk ke lapangan pekerjaan yang telah disediakan operator telekomunikasi. Tanpa harus takut dibajak lagi atau mungkin hanya ada sedikit royalti. Tak perlu khawatir karena penyanyi tak lagi berpatokan dari berapa banyak copy yang terjual. Kini, Aris resmi menjadi karyawan operator telekomunikasi. Lagu “Harap kan Sempurna” yang dibawakannya di penghujung acara sudah dapat dinikmati sebagai Ring Back Tone. Dan Sony BMG telah melengkapinya dengan memberikan kontrak rekaman. Lagi-lagi telepon seluler menjadi titiannya menapaki tangga kesuksesan. Aris dulu dan kini akan kembali mengeluti dunia telepon genggam yang membuat harapannya selalu ada. Akankah keberhasilannya juga membuat semua pengamen ibukota berkhayal menjadi idola atau hanya sekedar berharap menjadi marketing operator telekomunikasi ? Lalu, siapa yang jadi idola sesungguhnya. ?? (DPH)


Bandar Jakarta bikin Jak-TV mangkin demplon

Kekhawatiran bahasa Betawi yang akan mengintimidasi bahasa daerah lain menjadi keseriusan banyak pihak . Bagaimana tidak, tayangan televisi jaringan nasional memberi sumbangsih terhadap penyebarluasan bahasa ini ke seluruh Indonesia. Penggunaannya pada tayangan televisi jaringan nasional mencemaskan. Beda dari televisi jaringan nasional, televisi lokal Jakarta bebas menggunakan bahasa betawi sebagai pengantarnya. Jak-TV mulai menyikapinya secara positif ,di tengah gencarnya isu kapasitas muatan lokal. Sudah hampir 3 bulan ,sebuah tayangan berita berbahasa betawi bertajuk “Bandar Jakarta” disiarkan setiap Senin hingga Jum’at mulai pk 21.30 WIB. Lihatlah, Jak-TV sudah bangga menggunakan bahasa Betawi sebagai pengantarnya. Tidak tanggung-tanggung, Bang Margani-Kepala Dikmenti DKI Jakarta turun tangan sebagai salah satu pengisi “kamus bahasa” di penutup acara.

Bahasa Betawi yang terkenal lugas , tegas dan spontan diberitakan serta dilantunkan menjadi sebuah pantun yg memberikan nuansa segar bagi pemirsa. Lihat saja pantun menjelang jeda, “beli lontong ame arem-arem, buat digayem pagi-pagi, jangan dulu pade merem, Bandar Jakarta nti bakal balik lagi… Bukan hanya dari bahasanya , keragaman etnik Jakarta bisa diakomodir dari pembawa acaranye , tukang kekernye dan nyang ngarahin acaranye dan semuanye nyang ngedukung.

Tampilan teks berjalan mengenai beragam tanggapan pemirsa di tengah acara menyimpulkan bahwa tayangan ini ternyata bisa diterima kalangan luar betawi dan patut diacungi jempol. Tanggapan positif ini dapat dijadikan catatan wajib untuk tumbuh kembangnya sajian Jak-TV dalam mengemas budaya dan bahasa betawi. Penerapannya dikreasikan menyeluruh , seperti dalam pemilihan “abang Jakarta dan none Belande” yang sepintas terlihat hanya sebagai ajang mengejar popularitas. Dalam kasus lain adalah tentang nama Jak-TV dan slogannya My city my TV yang bahasanya ke-inggrisan, mungkin perlu diperlombakan agar lebih mengakrabkan unsur kebetawian dan kemajemukannya.

Memang tidak mudah mengedepankan unsur budaya dan bahasa lokal di tengah pluralitas pemirsanya . Dengan adanya “Bandar Jakarta”, warga Jakarta berharap agar Jak-TV bisa terus konsisten menguliti semua tayangannya. Tidak hanya pembawa beritanya yang bertutur kata , mungkin nanti berbagai acara dan film asing pun menggunakan bahasa betawi. Dan jangan lagi ada acara yang mudah dipolitisasi serta dikebiri. Mengambil cuplikan lagunya Bang Ben yang diplesetkan “Ee ujan gerimis aje, ikan bawal diasinin, e Jak-TV jangan dekem aje, biar banyak nyang nyaksiin “ (DPH)


Suami-suami takut istri : profil warga DKI

Sudah pernah lihat tayangannya ? Wajar , berlebihan , terlalu dibuat-buat atau kultur budaya ? Jargon “Makanya jangan macem-macem sama perempuan” mewakili emansipasi?. Suguhan yang semuanya pas : Bagi yang suka humor, pasti suka menonton komedi situasi pelepas lelah yang ditayangkan Trans TV dari Senin sampai Jum’at pukul 18.00-19.00 WIB ini. Memasuki episode yang sudah lebih dari 100, sejak tayangan perdana 15 Oktober 2007, SSTI arahan sutradara Sofyan de Surza dan diproduseri oleh Anjasmara, merupakan tontotan yang pas sebagai pengganti komedi situasi sebelumnya “Bajaj Bajuri”. Menjadi pas sebagai hiburan untuk tertawa, berseloroh, bercermin dan dimaknai.

SSTI terdengar miring, menuai protes keras pemirsa ke KPI dan Komnas Perempuan ,seluruhnya mengkritisi tentang siaran yang katanya tidak mendidik. Ada pula seorang Bupati yang menghimbau warganya agar tidak menonton acara ini. Siratan positif seharusnya nampak dari ketidakinginan kita kepada sesuatu yang berbau negatif. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat dan mencernanya.

SSTI merupakan profil warga DKI (Di bawah Kendali Istri), memang layak untuk komsumsi DKI . Tayangan ini merupakan pencerminan warga perkotaan khususnya Jakarta. Ibukota yg ganas digambarkan dengan tokoh ibu-ibu yg tak kenal kompromi… seenaknya… berlebihan…keterlaluan …dan cenderung kejam. Ibukota sbg penguasa begitu punya peranan, bisa membuat warganya patuh, berhak menjewer, bisa menghukum tapi bisa diajak diskusi . Tidak hanya itu ibukota punya rasa keibuan ,mengayomi, tenggang rasa , merasa bersalah dan tanpa segan meminta maaf. Semua campur aduk dalam lakon berlatar ekonomi sebagai sumber utamanya.

Adegan warga dengan berbagai macam etnis ini memiliki sifat bawaan pemeran dan tradisi masing-masing. Berbagai macam profesi yang dilakoni merupakan realita warga kota . Mang Dadang sebagai oknum aparat yang “sedikit-sedikit uang”, jarang mau bertanggung jawab dan sebagai keamanan malah sering memicu masalah. Namun Mang Dadang juga berlaku sebagai aparat yang benar. Tak hanya punya ide cemerlang plus solusinya, tapi juga bisa merangkul 3 istrinya yang multi etnis agar mereka mau patuh dan percaya. Pak RT sebagai pamong dengan segala urusan administrasinya harus menggunakan uang , masih didengar dan dihargai sbg orang tua . Profil warga dan aparat berserta oknum dalam multi lakon yang kontras dan lucu untuk ditonton.

Belum lagi visualisasi karakter anak-anak di sekitar kita : ada Karla yang selalu dimanjakan dengan uang menjadikannya anak borjuis. Namun, Karla juga butuh teman, butuh bimbingan dan mendambakan keharmonisan orang tuanya. Dia juga pintar dan kritis. Ada juga Lila yang lebih suka SMS-an daripada belajar. Lain lagi anak-anak yg dikomersilkan untuk mendapatkan uang, seperti 3 anak Mang Dadang. Semua profil anak-anak itu nyata tanpa sadar oleh bentukan-bentukan kita sendiri atau merupakan ekploitasi anak. Justeru itu kita dituntut untuk mendampingi putra-putri kita saat menonton

Coba lihat: welas orang jawa yang dispelekan karena lambat tapi kadang punya jurus jitu, dan mbak Pretty “janda ikan asin” yang selalu berniat baik tapi selalu dianggap negatif . Pelecehan dan sebuah sample keikhlasan yang selalu dilekatkan pada citra negatif. Itulah gambaran watak kita dari sebuah komunitas multi dimensi. Sinetron ini punya masalah keseharian yang tak kunjung selesai dan ada di depan mata. Situasi yg membuat pelakon untuk berpikir dan bertindak dalam menghadapi persoalan yang sedang trend sehingga menarik untuk dicermati. Pesan tentang banyak anak dengan sulitnya ekonomi juga diadaptasi sebagai tokoh Mang Dadang.

Solusi masalah dimunculkan berupa trik yang mudah dan singkat yaitu kesadaran para tokoh yang melakoninya. Entah apa yang dipikirkan sang pembuat skenario sehingga membuat kita merasa perlu mengapresiasi. Kompleks di dalam komplek begitu tepatnya: ada warga, ada aparat, ada lingkungan , ada etnis, ada profesi, ada perilaku, ada oknum, ada masalah dan ada solusi .Semua lengkap yang dikemas dalam miniaturnya, mengajak kita berkaca melihat diri sendiri untuk perbaikan sebuah komunitas. Yang sering berkaca pasti akan lebih memiliki wajah yang rupawan. Mari berkaca Jakarta !!(DPH)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers