Dirgahayu RI ke 66
Tak ada konvoi kendaraan perang, kenapa macet ?
Tak ada lagi deru mesiu, mengapa masih terhirup asap tebal ?
Penjajah sudah pergi, kenapa birokrasi masih rumit ?
Tak ada lagi ancaman, mengapa sekolah sulit ?
Merdeka !!! Merdeka !!! Merdeka !!!
Larangan merokok, perlukah ???
Pernah seorang teman yang perokok berat dinasehati orang tuanya agar berhenti merokok. “Lebih baik uangnya dikumpulkan dan dibelikan rumah daripada dibakar tidak ada gunanya”, begitu kata bapaknya. Akhirnya ia mengikuti saran tersebut dan mulai berhenti merokok. Tak terasa 10 tahun lewat , akhirnya rumah pun terbeli dari tabungan uang rokoknya. Baru berselang 1 tahun didiami, di luar dugaan rumahnya terbakar. Walhasil ia memutuskan kembali menjadi perokok. Katanya : “sedikit yang dibakar ,sesak yang terasa juga sedikit”.
Rokok memang musuh bagi yang bukan perokok, tapi melarang merokok sama saja dengan menabuh genderang perang dengan para perokok. Semua punya hak dan kewajibannya yang sama sebagai warga negara. Yang bukan perokok berhak mendapatkan udara segar di lingkungannya, dan perokok memiliki hak asasi untuk tetap merokok. Menjadi perokok juga bukan akibat dari dampak sosial ataupun keturunan. Ada anak yang orangtuanya merokok , tapi ia bukan perokok, dan sebaliknya. Ada pula perusahaan yang antipati dengan perokok, di dalam lowongannya dicantumkan bahwa tidak menerima pelamar yang perokok. Lantas apa yang salah dengan perokok??? Perlukah larangan merokok ????
Merokok memang harus dilarang, tapi bukan melarang perokok. Jika dilarang, berapa banyak orang yang akan terkena dampak ekonomi dari pelarangan tersebut. Jika tak dilarang ,perokok terkadang egois untuk berlaku seenaknya. Asal mulut terasa asam langsung pemantik menyala dan tak lama asap pun mengepul .Tak lagi sadar dimana berada dan tak lagi punya toleransi. Bukan itu saja bahkan, anak SD sekalipun sudah terlihat banyak yang merokok. Belum lagi kemasan dan puntung rokok yang dibuang sembarangan menimbulkan masalah tersendiri. Pemda memang telah mengeluarkan Perda No.2 tahun 2005 dan Peraturan Gubernur No.75 pada tahun yang sama, tapi seberapa efektif menuntun kesadaran perokok untuk merokok dengan santun.
Sosialisasi tentang bahaya kesehatan merokok juga tak akan pernah bisa efektif. Larangan akan berlalu bersama angin jika tanpa dukungan semua pihak dan mengikutsertakan perokok di dalamya. Area terlarang merokok harus jelas disiapkan, sangsi tegas bagi pelanggar dan siapa yang berhak menindak. Misalnya, ada penumpang pria di sebuah mikrolet yang bertato dan bertampang angker sedang merokok, disampingnya duduk ibu dan balita, lalu siapa yang akan menindak ?? Pelajar sekolah yang masih di bawah 18 tahun dengan mudah membeli dan merokok , siapa yang akan memantau ?? Penanganannya bukan lagi hal sepele, tapi sangat kompleks. Butuh kejelian, sosialisasi, kebijaksanaan , bertahap dan terus menerus.
Biar bagaimanapun, perokok adalah manusia . Mereka punya hak asasi ,punya hati dan punya alasan menjadi perokok. Sentuh hati dan perasaan mereka oleh orang-orang terdekat ataupun dengan orang yang disegani. Bukan melarangnya, tapi mengarahkannya agar mereka merokok dengan etika. Beri tempat tersendiri di semua area publik. Perokok tetap bisa merokok di tempat yang nyaman dan yang bukan perokok pun nyaman tanpa asap rokok. Itukah yang diinginkan dari semua pihak ?? Bukankah kita bangsa yang bermartabat dan mengedepankan cara-cara damai ?? Maaf ,tanpa mengurangi rasa hormat,mohon untuk menukarkan rokok yang sedang anda hisap di sini dengan vitamin C yang tersedia di smoking area. (DPH)
Macet …batu sandungan
Tidak heran melihat Jakarta setiap hari macet, macet sudah menjadi penyakit, bukannya Jakarta kalau tidak macet. Semua merasa diburu waktu dan egois.
Kemacetan di Jakarta menjadi batu sandungan, membuat meringis dan luka yang tak kunjung sembuh . Makanya warga Jakarta dan sekitarnya jadi lebih konsumtif dibanding kota-kota besar lain di Indonesia. Bagaimana mau effisien ?? Bagaimana mau maju jika tidak effisien ??? Padahal kalau saja tidak macet pasti banyak hal yg bisa diperbuat.
Beberapa faktor penyebab macet diantaranya :
- kendaraan pribadi yang tidak seimbang dengan jumlah jalan
- Belum adanya transportasi umum massal yang berpihak.
- Rambu-rambu dan lampu lalulintasnya belum dimanage secara maksimal.
- Peraturan lalulintas yang tidak tegas. Pelanggaran lalulintas terjadi dimana-mana, egoistis pengendara
- Infrastruktur jalan beserta pendukungnya yg belum tertata rapi.
- Kurangnya koordinasi yang baik dan menyeluruh antar instansi yang berwenang.
- Kaki lima yang belum dimaksimalkan keberadaannya.
- Gerbang dan parkir di tempat pelayanan publik kurang tertata
- Adanya kejadian khusus di jalan raya
- Masalah yg timbul akibat cuaca
- Budaya masyarakat berlalulintas
- Tidak jelas….tidak ada penyebab … macet juga…???
Kebutuhan akan transportasi umum massal sudah mendesak. Jelas, warga butuh akan moda transportasi umum yg menjangkau seluruh wilayah, murah, aman, nyaman serta baik pengelolaannya. Beralihnya mobilitas naik angkutan umum akan tumbuh dengan sendirinya. Dan kita hanya bisa berharap mudah-mudahan Jakarta akan menjadi salah satu ibukota negara yg bebas macet. Bayangkanlah jika setiap hari seperti saat lebaran tiba, lengang, sepi, lancarrrrrrrrrr…dan aman . Suatu saat, jalan raya Jakarta serasa seperti lebaran, dengan kemauan, kepedulian dan kontribusi warga berserta semua pihak berwenang tentunya. (DPH)
Ayo kite bisa !!!
Jakarta tahun ini berumur 481 dan saya rasakan kian hari kian pengap. Bagaimana tidak, kota kecil pusat pemerintahan dan perekonomian punya banyak masalah rumit yang harus dihadapi. Macet, kriminalitas, penduduk liar, sampah, polusi dan masih banyak lagi masalah sosial yang membuat Jakarta terpuruk jika dibandingkan dengan kota-kota besar lain di dunia.
Jakarta yang seharusnya jadi barometer Nasional , kadang malah berlaku kebalikannya. Bagaimana mengaturnya ? Bagaimana menimbulkan kepedulian warganya ? dan Bagaimana pula membuat warganya merasa aman nyaman dan bangga dengan kotanya?
Bisa dibayangkan beban kota kecil ini , menampung tak kurang 13 juta penduduk , ditambah oleh penduduk dari kota-kota penyangga di sekitarnya (Bekasi, Tangerang, Depok dan Bogor) yg setiap hari bermobilitas di Jakarta. Hal tersebut seharusnya bukan kendala, jika pihak berwenang dan warganya juga turut berperan dalam membantu menanganinya. Kita tidak bisa hanya berdiam , melihat atau mengkritisi tanpa kita sendiri sebagai warga Jakarta ikut aktif. Apakah kita tidak ingin Jakarta sejajar dengan kota-kota besar lain di dunia ? Jakarta harus jadi menjadi lebih baik .”Dan aye yakin kite bisa…” (DPH)




Komentator terakhir