"Jakarta for better city"

Bandar Jakarta bikin Jak-TV mangkin demplon


Kekhawatiran bahasa Betawi yang akan mengintimidasi bahasa daerah lain menjadi keseriusan banyak pihak . Bagaimana tidak, tayangan televisi jaringan nasional memberi sumbangsih terhadap penyebarluasan bahasa ini ke seluruh Indonesia. Penggunaannya pada tayangan televisi jaringan nasional mencemaskan. Beda dari televisi jaringan nasional, televisi lokal Jakarta bebas menggunakan bahasa betawi sebagai pengantarnya. Jak-TV mulai menyikapinya secara positif ,di tengah gencarnya isu kapasitas muatan lokal. Sudah hampir 3 bulan ,sebuah tayangan berita berbahasa betawi bertajuk “Bandar Jakarta” disiarkan setiap Senin hingga Jum’at mulai pk 21.30 WIB. Lihatlah, Jak-TV sudah bangga menggunakan bahasa Betawi sebagai pengantarnya. Tidak tanggung-tanggung, Bang Margani-Kepala Dikmenti DKI Jakarta turun tangan sebagai salah satu pengisi “kamus bahasa” di penutup acara.

Bahasa Betawi yang terkenal lugas , tegas dan spontan diberitakan serta dilantunkan menjadi sebuah pantun yg memberikan nuansa segar bagi pemirsa. Lihat saja pantun menjelang jeda, “beli lontong ame arem-arem, buat digayem pagi-pagi, jangan dulu pade merem, Bandar Jakarta nti bakal balik lagi… Bukan hanya dari bahasanya , keragaman etnik Jakarta bisa diakomodir dari pembawa acaranye , tukang kekernye dan nyang ngarahin acaranye dan semuanye nyang ngedukung.

Tampilan teks berjalan mengenai beragam tanggapan pemirsa di tengah acara menyimpulkan bahwa tayangan ini ternyata bisa diterima kalangan luar betawi dan patut diacungi jempol. Tanggapan positif ini dapat dijadikan catatan wajib untuk tumbuh kembangnya sajian Jak-TV dalam mengemas budaya dan bahasa betawi. Penerapannya dikreasikan menyeluruh , seperti dalam pemilihan “abang Jakarta dan none Belande” yang sepintas terlihat hanya sebagai ajang mengejar popularitas. Dalam kasus lain adalah tentang nama Jak-TV dan slogannya My city my TV yang bahasanya ke-inggrisan, mungkin perlu diperlombakan agar lebih mengakrabkan unsur kebetawian dan kemajemukannya.

Memang tidak mudah mengedepankan unsur budaya dan bahasa lokal di tengah pluralitas pemirsanya . Dengan adanya “Bandar Jakarta”, warga Jakarta berharap agar Jak-TV bisa terus konsisten menguliti semua tayangannya. Tidak hanya pembawa beritanya yang bertutur kata , mungkin nanti berbagai acara dan film asing pun menggunakan bahasa betawi. Dan jangan lagi ada acara yang mudah dipolitisasi serta dikebiri. Mengambil cuplikan lagunya Bang Ben yang diplesetkan “Ee ujan gerimis aje, ikan bawal diasinin, e Jak-TV jangan dekem aje, biar banyak nyang nyaksiin “ (DPH)

One response

  1. assalamualaikum abang none ncang ncing nya babe. salam knl aje ye kamal selaku pimpinan ondel ondel bintang saroja……………………………….

    September 10, 2009 at 12:04 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s