"Jakarta for better city"

PHK menuntunnya jadi “tukang cuci maling”


PHK memang diibaratkan oleh karyawan seperti malaikat pencabut nyawa. Datang tiba-tiba dan tak kuasa mereka menghalanginya. Bagi yang masih muda mungkin kesempatan masih terbuka lebar, tapi apa jadinya jika usia sudah separuh baya dan pendidikan hanya tamat SMA. Belum lagi jika istri sedang hamil tua dan masih tinggal di rumah sewa. Rasanya darah berhenti mengalir seketika.

Tidak begitu dengan Solehudin, dua kali mengalami PHK tak membuat Udin patah arang. Dengan usia 36 tahun saat itu dan tak punya keahlian membuatnya sulit menjadi karyawan kembali. Dulu Udin memang pernah menjadi petugas kebersihan di sebuah perusahaan pengelola gedung. Tahun 1999 ia diberhentikan dan kembali memperoleh pekerjaan di sebuah restoran Jepang. Walhasil kurang dari 2 tahun , Udin kembali di PHK.

Hubungan yang baik dengan lingkungan di tempatnya dulu bekerja memutar akalnya untuk tetap mencari peluang di sana. Bermodalkan ember dan lap “kanebo” , Udin menjadi tenaga freelance pencuci mobil di lokasi parkir gedung tersebut. Udin diminta oleh pengelola agar hanya bekerja di parkir basement serta selalu menjaga kebersihan di lokasi tersebut. Penghasilannya lumayan, bisa mendekati 2 juta rupiah sebulan. Hasil ini mungkin tak bisa diperoleh jika ia hanya menjadi tukang cuci mobil di gerai terbuka yang tersebar di pinggiran jalan-jalan Jakarta. Aktivitasnya seperti layaknya karyawan biasa , datang pukul 8 pagi dan pulang pukul 5 sore. Banyak karyawan yang membawa kendaraan serta supir pribadi yang merasa terbantu dengan jasa Udin, apalagi ia hanya mencuci jika diminta. Pembayarannya terserah pelanggan, mau harian atau bulanan. Selain itu, parkir gedung lebih terjaga keamanannya. Udin tahu betul siapa pemilik mobil dan lambat laun terlatih membaca gerak-gerik wajah baru yang mencurigakan. Hingga kini tercatat sudah 3 kali dirinya menangkap pencuri. Gedung yang tadinya rawan pencurian kini mulai berkurang dengan kehadirannya.

Kadang Udin merasa prihatin dengan rekannya, Buyung. Udin dan Buyung memang pernah berbagi penghasilan di tempat yang sama. Kini pelanggan Buyung di gedung itu menjadi pelanggan Udin. Sementara Buyung pindah ke gedung baru beserta pelanggan Udin yang mengikuti pindahya perusahaan mereka . Hanya saja Buyung masih harus bermain kucing-kucingan dengan pengelola atau dengan petugas keamanan gedung di tempatnya yang baru. Begitu juga simpatinya untuk rekan seprofesi lainya di Jakarta. Harapannya sederhana, agar pengelola gedung tidak mendiskriminasikan mereka. Menurutnya, bagi pengelola gedung yang peduli justru akan membantu Jakarta menciptakan lapangan kerja baru. Manfaat diperoleh baik bagi pengelola maupun pengguna jasanya. Dari hasil jerih payahnya, Udin memang bisa membuat mobil para pekerja mengkilap . Seperti mengkilapnya bola matanya ketika untuk kedua kalinya memerangkap pelaku asusila di lokasi yang sama.(DPH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s