"Jakarta for better city"

Aris “Idol” jadi karyawan telekomunikasi


Indonesia memilih “ARIS” di malam penganugerahan gelar Indonesian Idol 2008 yang berlangsung di Hall D JIExpo arena PRJ Kemayoran tgl 2 Agustus 2008. Januarismanto (23) yang lebih ingin disebut namanya dengan Januarisman Runtuwene memang layak menyandang gelar tersebut. Kemampuan olah vokalnya patut diakui. RCTI pun boleh berbangga dengan terpilihnya, karena acara ini kembali merebut perhatian. Jika tidak, mungkin reality show pencari bakat yang diadopsinya hampir saja kehilangan perhatian pemirsa di tahun kelimanya. Lewat ajang tersebut remaja diajak meraih impian secara cepat dan mudah untuk terjun ke industri musik hanya dengan suara. Sehingga wajar jika ada peserta yang tak peduli lagi berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk meraih suara. Sebagian mereka kini merana tetapi siapa pula yang tetap bahagia ?

Aris seperti bermimpi bisa tampil di ajang bergengsi. Kehidupan yang keras di kota besar telah membuatnya putus sekolah tetapi tidak putus asa untuk terus bekerja keras. Kereta Rel Listrik dan bis kota bak studio musik mobile bagi pengamen seperti dirinya. Keikhlasannya untuk membantu orang tua dan keluarganya sudah tidak laku dijual untuk menggugah simpati para pemirsa. Kematangan vokalnyalah yang mampu memberi jiwa pada setiap lagu dan membawanya ke depan pintu industri musik Indonesia. Bahkan lagu “Rasa yang tertinggal” milik ST12 didendangkan lebih bernyawa daripada pembawa lagunya sendiri. Prediksi tiga komentator Idol dan penyanyi kawakan sejak awal menuntun pemirsa agar cermat menyeleksi. Dan Melly Goeslaw pun akan tetap bernyanyi karena Indonesia memilih Aris.

Dulu, dirinya tak pernah mengira jika telepon genggam bisa mengangkat derajatnya. Perangkat itu memang tak pernah lepas dari kehidupannya. Dari tangan pemirsa, Aris berada di atas kenyataan. Sambil menangis, Fany-Istri Aris pernah menuturkan bahwa suatu ketika Aris rela menjual HPnya hanya untuk membelikan cincin di hari ulang tahunnya yang ke 19. Kini terulang lagi, istrinya pun kembali menangis karena SMS dan telepon dukungan pemirsa membantu mengiringi doanya. Aris hanya dapat memanfaatkan menuju cita-cita. Apa yang terjadi jika hanya sedikit pemirsa yang mau memilihnya ??? Maka sudah selayaknya jika ia selalu mengingat pesan ibunya, untuk tetap merendahkan hati ketika menjadi idola.

Dia tak perlu lagi susah-susah belajar etika, bahasa ataupun cara mengadatasi panggung. Bakat suara dan gitar kesayangannya bisa memupuskan semua kekurangannya. Orang sudah mengenal suaranya dan Indonesian Idol mempopulerkan namanya. Ini era digital, penyanyi bisa masuk ke lapangan pekerjaan yang telah disediakan operator telekomunikasi. Tanpa harus takut dibajak lagi atau mungkin hanya ada sedikit royalti. Tak perlu khawatir karena penyanyi tak lagi berpatokan dari berapa banyak copy yang terjual. Kini, Aris resmi menjadi karyawan operator telekomunikasi. Lagu “Harap kan Sempurna” yang dibawakannya di penghujung acara sudah dapat dinikmati sebagai Ring Back Tone. Dan Sony BMG telah melengkapinya dengan memberikan kontrak rekaman. Lagi-lagi telepon seluler menjadi titiannya menapaki tangga kesuksesan. Aris dulu dan kini akan kembali mengeluti dunia telepon genggam yang membuat harapannya selalu ada. Akankah keberhasilannya juga membuat semua pengamen ibukota berkhayal menjadi idola atau hanya sekedar berharap menjadi marketing operator telekomunikasi ? Lalu, siapa yang jadi idola sesungguhnya. ?? (DPH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s