"Jakarta for better city"

Pilih ERP atau “ERP”


Pemda DKI rencananya akan memberlakukan Electronic Road Pricing (ERP) tahun 2012.ERP jika diIndonesiakan artinya jadi Jalan berbayar elektronik. Sistem ERP ini akan menggantikan system KPP (kawasan Pembatasan Penumpang) atau biasa disebut 3 in 1 yang dianggap kurang efektif. Sistem ini diadopsi dari beberapa kota di dunia, seperti tetangga kita Singapura, Stockholm dan London. Padahal di Hongkong, Tokyo dan Bangkok gak jadi diterapkan. Seperti biasa yang jadi pertanyaan seberapa efektifkah sistem ERP ini? Jakartabisa gak berkompeten untuk menjawab, karena gak pernah ikutan studi banding ke luar negri dan juga bukan pakar transportasi perkotaan.  :))

Dari kacamata orang awam, kalo jalan berbayar namanya jalan tol, lalu apa bedanya? ERP ini akan diberlakukan pada ruas jalan tertentu (jalan bukan tol) dan pada waktu tertentu. Menurut rencana jalan Thamrin, Sudirman dan HR Rasuna Said. Jadi hanya kendaraan tertentu yang bisa lewat. Tentunya kendaraan yang bersedia membayar tarif ERP. Ruas jalan ERP terlebih dahulu dipasang perangkat pada gerbang (gate) yang akan berfungsi memindai setiap kendaraan yang akan memasukinya. Dan kendaraan yang akan lewat telah terlebih dahulu mengaktifkan alat yang namanya In vehicle Unit (IU). IU ini harus dipasang di kendaraan (baik mobil maupun motor, baik pribadi maupun umum) oleh bengkel tertentu yang ditunjuk. Ketika memasuki gerbang ERP yang menyala, maka IU harus aktif dan kartunya harus memiliki deposit dana di dalamnya. Dana tersebut akan otomatis terpotong menurut biaya yang ditetapkan di jalur ERP itu. Bentuk kartunya seperti kartu debit,yang dikeluarkan institusi tertentu. Kartu ini bisa disi ulang, kalo di Singapur biasanya di 7-11 store (baca seven eleven). Lalu apa ada hubungannya berdirinya beberapa 7-11 di Jakarta akhir-akhir ini dengan penerapan system ERP tsb ?? nah lho…

Trus di ruas jalan ERP akan dipasang kamera yang berfungsi untuk memonitor kendaraan yang lewat. Jadi kalo ada yang melanggar atau gak ada dana di IUnya bisa dideteksi. Kunci kelancaran sistem ini adalah “Kebijakan pemerintah yg tegas“ dan “kehandalan sistem serta peralatannya” . Bayangkan kalo ada mobil yang nyelonong masuk jalur ERP, trus gak punya IU, kamera di gatenya pas gak berfungi, begitu berfungsi dan dideteksi ternyata alamat pemilik kendaraan gak pernah diupdate. Nah dendanya mo dikirim kemana ??

Beda dari ERP yg kelewat ribet di atas, “ERP” yang satu ini singkatan dari “Enakan Rangkul Pengojek”. Jelas, ojek adalah salah satu transportasi yang lebih kebal macet di Jakarta. Kalo ERP yang satu mengontrol kemacetan, ERP yang ini menghindari kemacetan. Bedanya ERP yang pertama baru akan diterapkan, ERP yang kedua sudah berjalan. Coba tengok www.go-jek.com , ojek yang dikelola secara professional .Gak perlu repot tawar-menawar, cukup telpon call centernya, tunggu ojek datang, diantar ke tujuan dan tinggal bayar. Kalo yang gak terbiasa dengan panasnya Jakarta, jelas gak nyaman, tapi paling tidak aman dan cepat sampai tujuan. Warga asing banyak juga yang terlihat menggunakan jasa ini.
Kata rangkul dari singkatan di atas bukan berarti kita merangkul pengojek saat berkendara (emangnya mau?), tapi salah satu tujuan bisnis ini yang perlu diacungkan jempol,yaitu mencoba merangkul pengojek Jakarta untuk bergabung di dalamnya. Servicenya bukan hanya mengantar penumpang, bisa juga untuk layanan instan kurir, layanan belanja barang sampai menjadi mitra transportasi perusahaan. Sayangnya untuk saat ini layanan baru tersedia di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Dan lebih sayang lagi jika musim hujan tiba. Yang jelas pengguna akan malas menggunakannya .

Semua kembali terserah anda, sistem apapun yang digunakan tidak akan pernah memperbaiki kemacetan Jakarta. Biang masalah kemacetan Jakarta bukan karena jumlah kendaraan atau jalannya. Lebih cenderung karena SDMnya (yang tertib termasuk, termasuk objek penderita maksudnya). Lalu siapa yang seharusnya memberi contoh keteladanan masyarakat ? Tanya ke dalam diri kita sendiri , apakah kita sudah betul-betul menjadi pemimpin di keluarga kita sendiri ? (DPH)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s