"Jakarta for better city"

Jangan riyakan mudik di hari raya


Sebuah seremonial besar hadir kembali di tahun ini. Berulang setiap tahunnya, mewarnai indahnya negri ini setiap hari raya Idul Fitri.  Disebut-sebut sebagai drama kolosal oleh sebuah stasiun televisi swasta nasional. Menjadi topik spesial berita di surat kabar dan televisi. Siapa yang tak kenal mudik, sebuah pesta rakyat yang tak tergoyang karena inflasi rupiah. Mudik, asal kata yang masih samar berasal dari mana?. Sebagian mengklaim berasal dari bahasa betawi yang berarti menuju udik (kampung), atau bisa juga diartikan menuju hulu (udik), dimana semua kehidupan (air) berasal. Mudik bukan fenomena , mudik merupakan fitrah manusia untuk mengingat darimana semuanya berasal.

Seperti  tahun-tahun sebelumnya, beragam masalah muncul dan tak kunjung selesai. Mulai dari infrastruktur  jalan yang dikejar penyelesaiannya menjelang hari H, layanan transportasi pemudik yang belum maksimal sampai masalah keamanan pemudik di jalan maupun bagi tempat tinggal yang ditinggalkannya. Hampir 40 tahun sejak mudik dikenal, negara ini belum mampu mengelola pesta rakyat yang datang setahun sekali. Padahal kalo direnungkan berapa besar kontribusi  hajat ini pada perekonomian kita. Ada yang kerja dadakan jadi pembantu sementara, penitipan hewan laris manis, perputaran uang ke daerah-daerah asal pemudik, pembangunan sarana di daerah dari hasil kolektif putra daerah, hingga jadi ajang CSR bagi perusahaan terhadap mitra kerjanya.

Mudik yang dulu dikenal dengan tujuan kembali ke kampung di hari yang fitri, berkumpul bersama sanak keluarga ,bermaaf-maafan di daerah asal mulai bergeser sedikit demi sedikit. Semua terbius dengan pola konsumerisme yang melekat perlahan pada para pemudik. Dan tak bisa disalahkan jika efek tersebut akan melekat pula pada para penghuni desa yang ingin sukses seperti para pemudik. Mereka tak mau lagi melihat lebih jauh tentang apa upaya pemudik untuk bisa pulang kampung. Lihat saja menjelang mudik , jumlah antrean para konsumen penggadaian, calon kreditur kendaraan bermotor,  dan masih banyak lagi transaksi jual beli lainnya. Jual barang beli tiket agar bisa tetap mudik dan bergaya di kampungnya. Menjadi wajar jika hasil kerja keras si anak rantau ingin bisa terlihat wah di daerah asal. Tak juga keliru jika urbanisasi terus meningkat. Dan akhirnya mudik menjadi riya walau tak disengaja.

Semua bisa belajar dengan perencanaan mudik yang lebih baik, karena mudik memiliki beraneka kisah yang unik, karena mudik punya segudang manfaat bagi masyarakat. Dan jangan pernah menyepelekan mudik sekalipun. Jika mudik tidak dilestarikan maka kita akan kehilangan sebuah tradisi. Jika mudik tak dikelola dengan baik akan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi. Ayo mudik bagi yang ingin mudik, agar tradisi ini tak diklaim Negara tetangga sebagai warisan leluhurnya. Dan renungkan, jangan riyakan mudik di hari raya. (DPH)

4 responses

  1. Anty

    Sepertinya ku kenal siapa yg motret…..luruskan dan rapatkan yukkss

    August 25, 2011 at 9:10 PM

  2. cozy

    mas ak mau tnya…gmn caranya tlp/sms ke no itali?
    sy dkadih no 366****
    mksh bgt

    October 24, 2011 at 8:19 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s